Journal Reportase,- Jakarta,- Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan terobosan baru. Melalui Direktorat Budidaya Ikan mengembangkan teknologi baru yakni sistem bioflok.
Teknologi ditargetkan mendapatkan hasil budidaya diberbagai jenis ikan.
Target ini mengacau pada hasil yang dicapai untuk pengembagan usaha pada ikan lele.”Bioflok sudah dimanfaatkan untuk mengembangkan budidaya sistem untuk ikan Lele. Hasilnya sukses,” terang Slamet Soebjakto Dirjen Perikanan Budidaya.
Mengacu dengan kesuksesan itu KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya bekerjasama dengan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menerapkan teknologi ramah lingkungan tersebut untuk ikan Nila.
Slamet Soebjakto, dalam sambutannya saat launching Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok dan Sosialisasi Program Prioritas di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa penerapan dan pengembangan budidaya Nila sistem bioflok merupakan hasil inovasi tanpa henti yang terus dilakukan oleh direktoratnya terhadap teknologi yang efektif dan efisien termasuk dalam penggunaan sumberdaya air, lahan dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
”fenomena perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan global, perkembangan dan ledakan jumlah penduduk merupakan tantangan dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan sehingga mau tidak mau harus diantisipasi, karena secara langsung akan berdampak pada penurunan suplai bahan pangan bagi masyarakat”ujarnya
Untuk itu, kepada pelaku perikanan budidaya harus terus mengedepankan Iptek dalam pengelolaan usaha budidaya ikan yang berkelanjutan,” Intinya dengan kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas dan dengan penggunaan sumberdaya air yang efisien,”terangnya.
Terkait pengembangan di masyarakat, Slamet menyampaikan bahwa sebagaimana untuk ikan lele yang saat ini sudah sangat populer, budidaya ikan Nila sistem bioflok juga akan didorong pengembangannya di pesantren-pesantren dan kelompok masyarakat lainnya serta di daerah-daerah terpencil, perbatasan dan potensial
Dia mengatakan, Teknologi bioflok akan terus didorong agar diterapkan terhadap berbagai komoditas dan berbagai daerah sehingga menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.”Apalagi saat ini, produk Nila di beberapa daerah menjadi sumber gizi yang digemari, bahkan seperti di papua dan Lombok dan NTB pada umumnya”, imbuh Slamet.
Seiring dengan penertiban keramba jaring apung (KJA) di perairan umum seperti danau, waduk dan lainnya, Slamet optimis bahwa teknologi ini dapat menjadi solusi bagi pembudidaya ikan yang selama ini mengandalkan perairan umum sebagai tempat berbudidaya ikan Nila sebagai komoditas utamanya, agar pindah ke daratan dan menerapkan teknologi bioflok.
Secara bisnis, katanya, budidaya ikan Nila sangat menguntungkan. Harganya cukup baik dan stabil di pasaran yaitu Rp. 22 ribu per kg.
Dalam pemeliharaan ikan Nila sistem bioflok yang perlu dijaga adalah kandungan oksigen yang larut di dalam air, karena oksigen disamping diperlukan ikan untuk pertumbuhan juga diperlukan oleh bakteri untuk menguraikan kotoran atau sisa metabolisme di dalam air. Pada ikan nila, kadar oksigen terlarut (DO) di dalam media sebaiknya dipertahankan minimal 3 mg/L.
“Saya mengingatkan agar teknologi bioflok di masyarakat bisa dikawal oleh UPT-UPT dan para penyuluh agar tidak keliru menerapkannya, juga harus diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik seperti benihnya harus unggul, pakannya harus sesuai standar SNI, parameter kualitas air seperti oksigen juga harus tercukupi” pesan Slamet. (yen)
