Journal Reportase
Opini

Diskenariokan!!!

Oleh: Arif Yunianto, S.Sos – Pemred Journalreportase.com

Ada sebuah organisasi kewartawanan di Negara Kesatuan Republik Wakanda (NKRW). Isinya para wartawan, yang kesehariannya mengais berita di kepolisian. Termasuk mencari tahu apa motif Irjen Rambo mengambil peran Malaikat Izrail, mencabut nyawa Brigadir Z. Putih renda-renda ataukah kembang-kembang merah kecoklatan?

Organisasi ini bernama Front Wartawan suka-suka Deh, atau akronimnya FW-Deh. Singkat cerita, FW-Deh akan mengadakan pemilihan presiden baru. Presiden yang lama rencananya kembali mencalonkan diri. Bukan tiga periode, baru untuk yang kedua kali.

Padahal, sang presiden tak cukup berprestasi. Marwah organisasi ambyar dibuatnya. Apalagi martabat profesi, di titik terendah. Kok bisa?

Sejak dipimpinnya, FW-Deh berubah menjadi selayaknya event organizer (EO), liaison officer (LO) kepolisian. Yang tugasnya memberi panggung bagi para polisi, yang hendak memoles citranya. Organisasi seperti tidak ada wibawa.

Presiden membuat FW-Deh dan orang-orang di dalamnya, terkesan hanya menuruti kemauan polisi. Digiring kesana-kemari untuk menerbitkan berita-berita positif sesuai keinginan penegak hukum itu.

Sementara kebutuhan para wartawan anggota akan berita di luar pencitraan, kerap kali cukup sulit diperoleh. Butuh kerja ekstra untuk meraihnya. Bahkan tak jarang konflik terjadi saat anggota hendak menuntut kebutuhan itu.

Yang konyol, konflik terbuka ini terkesan didiamkan oleh sang presiden. Kalaupun ada upaya penyelesaian, nampaknya tak tuntas. Sebab persoalan serupa selalu berulang.

Sampai-sampai anggota mencari solusi melalui jalur mandiri, lapor sana-sini, demi jubir kepolisian bekerja lebih baik ke depannya di mata mereka.

Ini bukan gara-gara posisi tawar profesi yang rendah. Karena sangat jelas, jurnalis merupakan profesi yang sangat dibutuhkan pejabat publik dalam mengekspose apa yang ia kerjakan selama menjabat, termasuk oleh polisi. “Mitra yang sejajar,” kata orang gila di sana, yang pindah ke sini.

Tapi ini masalah posisi tawar organisasi yang rendah. Hasil tidak adanya wibawa presiden, di mata para polisi dan jubirnya. Presiden tak mampu memainkan peran vital krusial organisasi, yang berisikan orang-orang penting bagi kemajuan ataupun kejatuhan karier para polisi tersebut.

Presiden tidak mampu menarasikan dengan baik ke polisi dan jubirnya, bahwa Irjen Rambo yang super power, geng mafia, konon punya kerajaan dalam kerajaan, mabesnya mabes, bisa turut diruntuhkan oleh sebagian orang-orang yang ada di FW-Deh.

Entah dia tak paham kekuatan ini, atau sengaja tidak paham, atau memang dia tak cukup cerdas memahaminya. Entahlah.

Yang pasti posisi organisasi dan orang-orang di dalamnya, saat ini terkesan jadi keset ‘welcome’ bagi sepatu kotor para polisi. Bukan sapu bersih yang mampu menyingkirkan semua kotoran dan debu, termasuk si pengguna itu sendiri.

Sang presiden hanya sibuk cengangas-cengenges, haha-hihi dengan kawanannya, bahkan dengan yang lebih muda. Tak salah memang bergurau melepas penat, bersikap egaliter. Namun yang jadi soal aksi ini terlampau sering, sehingga menjatuhkan kewibawaan seorang pimpinan di mata anggota serta pihak lainnya. Tetap perlu ada garis demarkasi antara pimpinan dan anggota. Apalagi, cengangas-cengenges, haha-hihi ini berlangsung di tengah seringnya persoalan sulitnya memperoleh informasi pada jubir polisi.

Dan yang paling kampungan, upaya-upaya memuluskan sang presiden kembali menduduki kursi empuk kekuasaannya, menggunakan cara-cara lagu lama di kaset kusut, dengan penyanyi baru.

Yakni dengan mengangkat orang-orangnya di KPU. Lalu KPU merilis daftar pemilih yang mayoritas pendukung presiden. Ini sudah dikalkulasi. Orang-orang baru yang bahkan belum memenuhi syarat menjadi anggota FW-Deh, dimasukkan ke daftar pemilih guna menambah suara kemenangan.

Waktu pendaftaran calon presiden pun dibikin singkat. Informasi mengenai adanya pemilihan juga tak masif. Ini guna meminimalkan calon-calon lain di luar petahana, serta menekan hal-hal yang bisa mengganggu kelancaran suksesi incumbent.

Pengumpulan dan pengkondisian pendukung dan calon pendukung juga dilakukan. Inti dari kegiatan ini, perut yang hadir kenyang, kantong aman, pulang ke rumah senang. Bukan soal paparan visi-misi presiden terhadap organisasi ke depan. Sebab semua yang diutarakan kebanyakan janji surga, cenderung omong kosong belaka.

Kalaupun ada prestasi yang disampaikan, itu hanya klaim-klaim saja. Sebab esensi dari adanya organisasi, ialah memperkuat posisi profesi. Khususnya dalam hal memenuhi kebutuhan dasar, yakni MEMPEROLEH BERITA. Sementara yang lain bonus-bonus saja.

Apabila tak mampu memenuhi kebutuhan pokok ini, anak TK pun setuju untuk berkata “sepatutnya tak perlu ada organisasi”. Atau memang sesungguhnya si presiden itu yang tidak harus ada, memimpin organisasi?

Wallahu a’lam bishshawab

*Cerita ini hanya fiksi belaka. Apabila ada kesamaan judul, karakter nama tokoh dan lainnya, itu hanya perasaan Anda saja ahh

Related posts

Airlangga vs Jokowi, Adu Kuat Politik

JournalReportase

Jika ingin menang, Prabowo harus Jadikan Jokowi Ketua Umum Gerindra

JournalReportase

ZEITGEIST: SOEHARTO SEBAGAI PAHLAWAN NASIONAL

journalreportase

Leave a Comment