Journal Reportase
Nasional

Jenderal Polisi Turun di Pelatihan Pasukan Khusus Garuda Bhayangkara, Siapa Dia

JAKARTA- JOURNALREPORTASE- Formed Police Unit (FPU) merupakan pasukan khusus yang diakui dunia International dalam menjalani Misi Perdamaian Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Polisi Republik Indonesia (Polri) selalu ambil bagian dalam misi mulia tersebut dan selalu menjadi kepercayaan PBB dalam memelihara kedamaian dan ketertiban dunia.

Kepercayaan dan apresiasi tinggi PBB serta pemerintah di negara konflik, mulai dari Bosnia, Kroasia, Sudan sampai Afrika Tengah serta negara-negara perwakilan lainnya kepada Polri terus dipertahankan, dijaga bahkan ditingkatkan. Divisi Hubungan International (Divhubinter) Polri terus mendidik dan membina Team Garuda Bhayangkara yang selalu diberangkatkan dalam misi perdamaian setiap tahunnya sebanyak 140 Anggota.

Untuk memastikan Anggotanya benar-benar solid, layak dan mampu serta berintegritas tinggi dan siap, Sang Jenderal Bintang Satu, Karomisinter Divhubinter Polri, Brigjen Pol Krishna Murti turun langsung melihat Garuda Bhayangkara Polri FPU 3 MINUSCA (United Nation Mission Integrated Multidimensional Stabilization in Central African Republic) berlatih dengan begitu kerasnya di Pulau Tegal Mas yang terletak di teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung,

Pria gagah yang sempat viral saat ia begitu beraninya berada terdepan baku tembak dengan teroris pelaku Pemboman Thamrin pada 2016 lalu ini, sejak awal FPU 3 berlatih dan melaksanakan ujian di Serpong, Cikeas sampai Teluk Tegal Mas Lampung terus memantau dan melihat langsung proses pendidikan dan pelatihan yang dilakukan 152 Anggota Garuda Bhayangkara Polriu FPU 3 MINUSCA. .

Kedatangannya meninjau langsung pelatihan FPU 3 MINUSCA untuk memastikan kesiapan pasukannya. Baik dalam hal kepemimpinan (Leadership), managerial team atau kekompakan dalam bekerjasama, membangun kesolidtan antan team, kedisiplinan, prilaku, fokus, kewaspadaan, kesigapan, kemampuan mengantisipasi segala bentuk teror, penyergapan, perlindungan warga sampai dengan penembakan yang benar-benar tepat sasaran dan juga waspada terhadap ranjau atau jebakan serta serangan granat yang mungkin terjadi.

“Saya harus memastikan seluruh Anggota FPU 3 MINUSCA ini siap dalam segala kemampuannya untuk diberangkatkan melaksanakan misi perdamaian ini,” tegas Krishna Murti.

“Mereka akan bekerja dalam hal penegakkan HAM (Hak Asasi Manusia) di wilayah konflik. Bertugas memberikan keamanan kepada warga dan mengamankan warga masyarakat yang jadi pengungsi di dalam negaranya sendiri. Kita juga akan membangun kepolisian disana (Afrika Tengah), untuk menguatkan kepolisian disana. Karena kepolisian mereka masih dalam kondisi kolaps. Dan mereka akan menghadapi pertempuan yang mungkin terjadi di dalam wilayah tersebut. Misi ini sangat berbeda dengan misi lainnya di seluruh dunia,” sambungnya.

Pria yang pernah bertugas sebagai Staf Perencanaan PBB di New York ini mengatakan, misi MINUSCA ini khususnya Indonesia, harus memenuhi standar yang memang telah ditentukan oleh PBB.

“Kita diminta membentuk pasukan khusus ini untuk kita kirim ke Afrika Tengah yang sampai saat ini masih terjadi konflik, antara pemberontak dengan pemerintah, antar suku dan lain sebagainya. Kita memiliki misi untuk mendamaikan dengan cara-cara humanis. Namun juga kadang terjadi teror dan pertempuran disana. Ini yang harus kita waspadai. Karena itu perlu bekal yang kuat untuk team ini (FPU 3),” jelas Krishna.

Secara langsung, Jenderal yang begitu dekat dengan seluruh anggotanya ini memperlihatkan kemampuan dan ketajamannya dalam menembak. Di Pulau Tegal Mas, ia menembak dengan laras panjang yang terisi 3 butir peluru dengan jarak 35 meter, menembak sasaran botol kaleng minuman bersoda. Ketiga peluru tersebut tepat mengenai sasaran.

Tidak itu saja, ia juga melatih FPU 3 dalam hal kepemimpinan dengan membentuk kepercayaan antara bawahan kepada pimpinan. Pasukan tersebut hanya mendengarkan intruksi pimpinannya saat membuat jembatan untuk mencapai satu tujuan. Dan hal itu berhasil meski harus mengarungi lautan.

Termasuk juga dengan kerasnya ia meminta pasukan FPU 3 untuk mengantisipasi ranjau sekaligus mengamankannya agar tak terjadi ledakan. Kemampuan anggotanya dalam menganalisa target dan tujuan juga diberikan olehnya. Sampai akhirnya 152 Garuda Bhayangkara Polri FPU 3 MINUSCA siap dilakukan pembaretan untuk selanjutnya diberangkatkan dalam Misi Perdamaian PBB ke Afrika Tengah pada 11 September mendatang.

“Anggota kami sudah siap 100 persen dalam misi perdamaian ini,” singkat Krishna Murti.
(Khnza)

Related posts

Jamin Keamanan Obvitnas, Kapolda Banten Tinjau PLTU Jawa 7 Banten

redaksi JournalReportase

Bersama Masyarakat Puncak Jaya, TNI Kokohkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

redaksi JournalReportase

PSBB Transisi Fase 2, Babinsa Palmeriam Bersama BPSDM Jakarta Laksanakan PDMPK

redaksi JournalReportase

Leave a Comment

KLIK BAHASA BERITA»