Journal Reportase
Breaking News

Zainal Bintang : Kader Muda Supaya Merawat Golkar

JAKARTA-Menjelang Munas Golkar ke 10 Partai Golkar, mendadak terjadi kekisruhan sesama kader. Pasalnya, karena penentuan pelaksanaan Munas memantik dua pendapat. Kubu
Airlangga Hartarto yang Ketua Umum saat ini menyebutkan pelaksanaan Munas pada bulan Desember 2019 mengacu kepada priodesasi lima tahunan yang berlaku sesuai AD/ART.
Sementara itu, kubu Bambang Soesatyo atau Bamsoet selaku kandidat ketua umum Menghendaki Munas dilaksanakan, bulan Oktober 2019.

Kedua kubu mengemukakan
masing-masing alasannya. Perbedaan agenda pelaksanaan Munas dua kubu yang bersaing ketat itulah yang  menimbulkan ketegangan yang mengarah kepada tindakan kekerasan sesama kader Golkar, yang ditandai dengan perebutan kantor DPP Partai Golkar di Slipi. Kedua kubu adu kekuatan berebut menguasai kantor tersebut saling menggembok pintu pagar.

Baik dari dalam maupun dari luar. Menanggapi adanya konflik internal, Zainal Bintang, mantan politisi senior Golkar yang memiliki banyak pengalaman mengikuti dinamika Golar dari Munas ke Munas, ketika dimintai tanggapanya, pada awalnya menolak berkomentar.

Menurut Bintang, dirinya enggan berkomentar. Nggak etis mencampuri urusan rumah tangga partai lain. Meskipun demikian, saya tetap saja terus-terusan dimintai tanggapan oleh teman-teman media. Maka, yang paling pertama yang ingin saya katakan, sebagai orang yang pernah berkecimpung di Golkar 45 tahun lebih, terus terang saya sangat prihatin secara pribadi dengan adanya kisruh yang terjadi hari-hari ini. Tentu saja yang ingin saya sampaikan kepada kader- kader muda Golkar yang cerdas dan terdidik, sebaiknya mereka bersatu padu membesarkan dan memperkuat serta merawat Golkar sebagai “rumah bangsa”. “Golkar adalah salah satu parpol berpengalaman dari masa ke masa.

Telah melahirkan banyak kader mumpuni dan “alumnus”nya banyak yang sukses menjadi tulang punggung dan kader cemerlang di parpol lain”, ujar Bintang.

Terkait dengan upaya mengakhiri konflik tersebut, Bintang yang juga wartawan senior itu menyarankan, sebaiknya kubu yang bertikai itu sepakat untuk segera mengajak serta para sesepuh dan senior Golkar supaya segera turun tangan. “Istilahnya turun gunung untuk
mempertemukan kedua sudut pandang yang berseberangan itu”, jelasnya.

Kehadiran dan kepedulian para senior atau sesepuh Golkar terhadap kondisi yang kurang elok itu sangat penting dan perlu. “Demi menjaga keutuhan Golkar ke depan sebagai salah satu lembaga aspirasi rakyat yang sukses memelihara unsur yang berbeda-beda latar
belakang yang ada di dalamnya.

Sebutlah yang beda agama, suku, golongan, budaya serta tua dan muda. Kesemuanya bisa menyatu dan akrab di dalam rumah besar Golkar. “Ini modal dasar yang sangat esensial yang harus dirawat bersama. Golkar itu rumah besar kebangsaan”, tegasnya.

Berbicara tentang siapa yang cocok menjadi Ketua Umum Golkar ke depan, Bintang menegaskan, bahwa hal itu adalah sepenuhnya wewenang Munas, wewenang pemegang suara para ketua di daerah-daerah.

Menurut penilaiannya sosok Airlangga Hartarto yang ketum sekarang sama kuat dengan sosok Bambang Soesatyo alias Bamsoet yang Ketua DPR. “Keduanya kader Golkar yang handal. Masing – masing telah menampilkan kinerja dan kapasitas pribadi masing – masing di bidangnya’, kata Bintang lagi sambil menambahkan.

Pendek kata, seluruhnya terpulang kepada peserta Munas. Menurutnya, peserta Munas tentu sudah punya rekam jejak kedua kandidat itu. Plus minus kapasitas dan kapabilitas kedua sosok kandidat itu sudah terlihat dan sudah terekam di benak peserta. Untuk itu, kata Bintang, ke depan Golkar memerlukan pemimpin yang punya jaringan dengan pengalaman politik yang luas.

Tinggal mereka-para pemilik suara mempertimbangkan, siapa yang cocok ke depan memimpin Golkar. Tentunya kandidat adalah yang punya kapasitas dan kecerdasan tinggi menghadapi derasnya dinamika politik ke depan.

Menyongsong pergantian kepemimpinan nasional tahun 2024. Golkar sudah harus memikirkan, merencanakan dan mengelolanya dari sekarang. Janganlah hanya jadi penonton atau penggembira.

Golkar perlu ketua umum yang lincah, tidak kaku, dan wellcome kepada siapa saja yang menemuinya, tegas Bintang mengakhiri keterangannya.

Related posts

Ganggu Industri Kecil dan UMKM, Impor Pakaian Bekas Senilai Rp 80 Miliar Dimusnahkan

JournalReportase

Perketat Penanganan Covid-19 Kapolresta Bandara Soetta Bentuk Timsus Penindak Berbasis Ojol

JournalReportase

Panglima TNI Lepas Babinsa Tri Matra Bersinergi Untuk Negri Bagikan Sembako

JournalReportase

Leave a Comment