JOURNALREPORTASE,-LUMAJANG,-Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban bersama Tim Cobra Polres meninjau langsung jalur aramada tambang di wilayah Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, Senin (8/7/2019)
Inpeksi yang dilakukan Kapolres guna menyelesaikan konflik horizontal yang terjadi antara warga Desa Gondoruso, Kalibendo dan Bades dengan pemilik usaha tambang maupun pemilik armada tambang pasir.
Seperti diketahui, pada Senin pagi (8/7), ratusan warga dari ketiga Desa tersebut menyampaikan aspirasinya di depan Balai Desa Kalibendo agar armada truk tidak melalui jalanan Desa mereka karena banyak berdampak negatif. Akibat akibat aktifitas pertambangan itulah yang mengakibatkan masyarakat geram.
Disisi lain pihak sopir truk tidak mau melewati jalur alternatif yang telah tersedia karena jalur tersebut dianggap berbahaya karena harus melewati sungai yang terpotong sungai selebar 25 meter membahayakan armada truk karena saat volume air meningkat dapat berpotensi banjir.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut Kapolres Lumajang bersama rombongan Tim Cobra Polres Lumajang mengecek jalur alternatif agar dapat mengevaluasi apakah benar terdapat kendala bagi armada truk untuk melintas. Saat di dilakukan inpeksi ditemukan beberapa titik jalur alternatif yang memang melalui sungai dan membutuhkan gorong-gorong agar aliran sungai dapat berjalan dan untuk armada truk juga dapat melintas diatas aliran sungai. Meskipun begitu jalur alternatif sepanjang 9 Km sudah 100% dapat dilalui.
Arsal Sahban mengatakan bahwa jalan alternatif 100 persen sudah dapat dilalui.”Saya sudah inpeksi jalan alternatif bagi armada tambang pasir dan 100 persen sudah dapat dilalui.
Meski, katanya, ada beberapa titik yang masih memerlukan perapihan, seperti saat melintasi sungai harus ada jembatan dari gorong-gorong sehingga jalur air tidak terhambat tapi kendaraan juga bisa melewati diatasnya. “Saya lihat sudah ada 9 gorong-gorong yang dibuat,”ujar Arsal
Perlu diketahui bahwa perapihan jalan tambang membutuhkan biaya, sehingga kesepakatan para penambang, setiap armana truk yang lewat dipungut Rp. 10.000,- sebagai biaya untuk perbaikan dan perapihan jalan, karena semua pembangunan jalan merupakan swadaya dari para penambang.
Persoalan lainnya yang muncul di jalan alternatif ini karena adanya warga mengakui tanah mereka yang di lalui jalan alternatif tersebut. Ada sekitar 40 kepala keluarga yang mengklaim bahwa dulunya sebelum terjadi banjir lahar dingin, diakuinya adalah tanahnya. Tapi informasi lain diperoleh kalau semua tanah di jalur tambang sudah di ganti rugi oleh Pemerintah melalui proyek semeru oleh kementerian PU.
