SHARE

JournalReportase.com, Indonesia seharusnya memiliki konsep pengenalan Wayang di kalangan anak muda, baik dari segi konten maupun konteksnya. Dengan demikian, Wayang sebagai karya sastra tradisional yang memenuhi kualifikasi karya master piece dan budaya adiluhung dapat dikenal, diturunkan, dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Namun sayangnya pada kenyataannya kesenian wayang lebih disuka oleh orang asing ketimbang generasi bangsa sendiri.

Demikian harapan yang mengemuka dalam bincang budaya, yang berlangsung di Gedung Pewayangan Teater Kautaman Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Bincang budaya diikuti sejumlah seniman, budayawan, pemerhati budaya, akademisi, dan para wartawan, yang tergabung di berbagai elemen organisasi Pewayangan Indonesia, diantaranya dari; SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia).

Para tokoh dan budayawan yang hadir, antara lain; Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Sudarko Prawiroyudo (Anggota Dewan Kebijakan SENA WANGI, Pengamat Wayang Nasional & Mantan Anggota DPR-RI), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), Kondang Sutrisno (Ketua Umum PEPADI), Hari Suwasono (APA Indonesia), Dubes Samodra Sriwidjaja (UNIMA Indonesia), Prof. Teguh Supriyanto (Guru Besar Sastra Universitas Negeri Semarang), Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum (Akademisi), serta Dalang terkenal, Manteb Soedharsono.

Berabad silam, kesenian wayang digemari sebagai sesuatu yang populer. Itu sebabnya kesenian yang mengandung berjuta makna filosofis ini sangat eksis.

“Wayang telah melewati berbagai peristiwa sejarah, dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan betapa budaya pewayangan telah melekat dan menjadi bagian dari filosofi hidup bangsa Indonesia,” papar Ketua Umum SENA WANGI, Drs. Suparmin Sunjoyo.

Tapi kini eranya berubah. Di tengah arus informasi serba cepat dan mudah diakses, kesenian wayang seakan terkikis zaman. Wayang kurang digemari, khususnya kaum muda. “Simboliknya (jagat pewayangan) sudah tak nyambung lagi dengan selera anak muda zaman now,” kata Prof. Teguh Supriyanto.

Beragam cara dilakukan guna lebih mengenalkan Wayang di kalangan anak muda, termasuk melakukan berbagai pembinaan. Menurut Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum, SENA WANGI dan PEPADI telah melakukan berbagai upaya, agar Wayang bisa diterima oleh generasi muda.

“Kami juga melakukan upaya pengenalan wayang ke sekolah, ‘Wayang go to School’, mulai dari anak-anak TK, SD, hingga pelajar SMA. Upaya lain menyampaikan cerita Wayang melalui penulisan novel supaya lebih mudah diserap. Sasarannya mereka tertarik dulu,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, sejumlah elemen organisasi Pewayangan Indonesia membuat pernyataan bersama. Menegaskan bahwa dalam Pilkada Serentak, Pileg dan Pilpres, diharapkan organisasi Pewayangan dapat bersikap independen dan netral.

“Tidak memihak pada kelompok politik apapun dengan menyerukan para anggota organisasi pewayangan tersebut menggunakan hak politiknya dengan sebaik-baiknya,” ujar Romo Sudarko Prawiroyudo, mengutip butir pernyataan.

Beliau mengharapkan, terbangun kesadaran kolektif menuju proses demokrasi yang dapat melahirkan pemimpin yang bersih, anti: korupsi, penyalah-gunaan Narkoba, anti KKN dan berakhlak mulia, serta menegakkan keutamaan hidup berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Menurut Kepala Bidang Humas SENA WANGI, Eny Sulistyowati S.Pd , MM, pernyataan bersama ini merupakan kesepakatan yang diambil melalui rapat gabungan dari sejumlah elemen Organisasi Pewayangan Indonesia.

“Saat ini kita berhadapan dengan bahaya segregasi sosial di mana politik identitas mencuat. Diperlukan kesadaran untuk membangun relasi perdamaian sejati yang memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kesetaraan. Dalam gerakan budaya ini, sumbangsih pemikiran dari kita diharapkan dapat menginspirasi panggilan bersama untuk meretas damai di tengah keberagaman, secara rukun, bermoral, dan berbudaya,” kata Eny Sulistyowati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY