SHARE
Adds

“ Seperti kita ketahui, bahwa pada waktu ini kebutuhan kosumsi daging ayam rakyat Indonesia per orang per tahun sekitar 10 kilo relatif masih sangat rendah. Sebagai perbandingan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pertanian bisa mencapai 40 kilo, tapi apa yang mungkin ? karena faktanya kenaikan 10 kilo saja sudah sangat berat”
Hal ini di ungkapkan Siswono Yudhohusodo, Ketua Pusat Kajian Pangan Strategi (PKPS) saat menggelar konferensi pers kepada wartawan usai penutupan seminar sehari bertajuk ”Rembuk Jagung Nasional 2017” yang diikuti sekitar 150 orang peserta seminar dari berbagai kalangan profesi diantaranya ada yang dari akademisi, peneliti, pelaku bisnis, distributor, asosiasi pakan ternak, petani jagung, asosiasi ternak ayam telur, asosiasi jagung, dan koperasi UKM (Usaha Menengah Kecil), termasuk beberapa kepala-kepala dinas pertanian beberapa daerah.

Sedangkan pembicara pada sesson kedua hadir antara lain : Tri Hardianto ( Dewan Pembina Gabungan Organisasi Ternak Ayam Nasional/GOPAN), Purwono (Pakar pangan IPB), Sutrisno ( Ketua Asosiasi Ternak Ayam ), Risdianto (Staf Ahli Kementan), H. Bambang M Yasin (Bupati Dompu-NTB), dan Salahuddin (Ketua Asosiasi Jagung Indonesia ).
Seminar sehari yang di gelar lembaga pangan swasta PKPS sesuai Sub Tema “ Sinergi Kekuatan Nasional dalam Pencapaian Swasembada Jagung dengan Iklim Usaha yang Kondusif dan Mensejahterakan” menjadi perhelatan seru antara pembicara dan para peserta seminar yang sebagian besar diantaranya, mereka ini punya pengalaman maupun pengetahuan yang mumpuni di bidang pertanian dan pangan, baik itu menyangkut kebijakan pemerintah sampai pada urusan tanaman (jagung), ternak (ayam), pakan ternak (ayam), bibit, pupuk, pendistribusian, mekanisasi peralatan, subsidi, dan sebagainya.

Melihat, situasi dan kondisi tata kelola atau tata niaga jagung saat ini, masih perlu perhatian serius dari pemerintah, karena masih banyak persoalan atau kendala mengenai budidaya jagung yang harus segera dicariformula atau rumusannya untuk dibuatkan payung hukum tentang Rancangan Undang-Undang Pangan dan Peraturan Pemerintah (PP) kalau perlu dibuat sekalian lebih baik lagi, guna menghindari tangan-tangantidak bertanggung jawab dari para “mafia” jagung.
Selanjutnya, Siswono Yuhdohusodo mengatakan, “Untuk kenaikan 10 kilo per orang per kapita sudah menuntut penyedian 2,5 juta ton ayam yang memerlukan jagung yang berkualitas. Maka, diharapkan ke depan ini kebutuhan jagung di Indonesia akan sangat besar,tergantung bahan baku pokok untuk pakan ternak,” ujarnya.
“ Kalau dikaitkan ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang paling murah bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan jagung harus dirasakan cukup bagi kebutuhan pangan, dan kesehatan masyarakat, itu yang sangat penting, ” imbuh Siswono berharap ke depan tidak akan terjadi lagi hal seperti itu.

Kendala dan kelemahan tata kelola/niaga jagung
Pertama, menurut Siswono, dari indikasi yang ada diketahui, bahwa Sumber penyebab tidak kompotitifnya harga jagung di tanah air kita ini, antara lain disebabkan, pertama sekali usaha petani masih amat kecil dengan kepemilikan lahan hanya 0,3 hektar. Seperti, salah satu contoh salah satu petani yang dimiliki Salahuddin, Ketua Asosiasi Jagung Indonesia (ASJAGI) di daerah Lamongan, Jawa Timur, menyebutkan kalau saja lahannya naik (luas-maksud), maka harga produksi jagung bisa diturunkan.
Selanjutnya, “Kalau saja petani jagung memiliki lahan hanya 0,3 hektar dengan harga jagung Rp. 4.200 per kilo, petani rata-rata hanya mendapatkan penghasilan Rp.650.000,- per bulan terlalu kecil, “ jelas Siswono.
“ Jadi, ketika jagung di Indonesia harganya Rp.4.200,- per kilo, harga jagung di Brasil di indentifikasi menyebutkan sekitar Rp.2.500,-per kilo. Jadi, penyebab pertama lahan kita masih terlalu amat kecil hanya 0,3 hektar,” imbuhnya
Kedua, yang bisa di indentifikasi adalah banyak petani dalam upayanya perluasan lahan usahanya menyewakan dengan harga sewa tanah di Pulau Jawa amat sangat mahal. Dilaporkan, ada yang Rp. 12 juta per hektar per tahun, bahkan di Jawa Timur di daerah-daerah yang sangat bagus bisa mencapai Rp.20 juta per hektar per tahun.
Di satu sisi, beban biaya produksi jagung dan sewa tanah terlalu amat tinggi. Seharusnya atau yang terjadi di negara lain, petani menanam jagung diatas tanahnya sendiri tidak harus menyewa ini yang membuat harga jagung murah.
Sebagai perbandingan, yang digambarkan oleh Salahuddin petani dari Lamongan, untuk 1 hektar tanaman jagung sewanya Rp. 20 juta, sementara hasil bersih si petani jagung hanya Rp. 6 juta rupiah. ” Bisa dbayangkan, kalau petani harus menyewa lahan setinggi itu. Kita menyaksikan, bahwa pesebaran wilayah-wilayah penghasil jagung yang sangat luas sebagian itu tidak ekonimis untuk dibawa ke pabrik-pabrik pakan ternak karena letaknya yang jauh, dan sulit transportasi maupun distribusi.
Dari indentifikasi kedua tersebut, bahwa di beberapa tempat/daerah mekanismesasi alat tidak berjalan dengan baik. Dikarenakan wilayahnya sangat terlalu kecil, sehingga investasi peralatan menjadi tidak efisien.Tapi, ada alatnya yang cocok tapi tidakcocok dengan medan (lokasi) lahan miring, terlalu tinggi atau low and run , tanahnya terlalu becek, sehngga alatnya sulit digunakan (macet).
PerhatIan presiden sangat besar
Kondisi-kondisi yang cukup memprihatikan di sektor pertanian dan pangan (tanaman jagung) pemerintahan Presiden Jokowi sangat koperatif memberikan perhatian yang sangat besar terhadap infrastruktur pembangunan pertanian, dan subsidi yang diberikan pada tanaman pangan ini cukup besar pula. Dilaporkan juga, untuk benih,pupuk, alsintan , dan anggaran pertanian tercukupi untuk anggaran satu tahun. Anggaran paling besar, adalah subsidi pupuk mencapai lebih dari 30 triliun rupih per tahun.
Selanjutnya dikatakan, “ Jadi, nanti tim perumus dari PKPS akan membuat rumusan yang lebih baik untuk kita berikan rumusan itu kepada pemerintah dengan merekomendasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, sehingga dapat membantu pemerintah untuk dijadikan solusi mengatasi disverifikasi dan indentifikasi masalah jagung yang sekarang mengalami kendala cukup serius di kalangan dunia usaha, “ papar Siswono.
Sementara, Udhoro Kasih Anggoro mantan Dirjen Tanaman Pangan Kementan yang juga salah seorang anggota PKPS ini memaparkan, “ Bahwa,rumusan dari rembukan jagung nasional, yang pertama adalah isu penting tingkat nasional maupun global, Indonesia yang merupakan populasi nomor 4 di dunia untuk mengelola pertanian lebih baik,”paparnya.
“Mengingat, pengelolaan pertanian yang baik itu tidaklah mudah, karena negara dilakukan secara estafet dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya sepatutnya kita hargai apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah sejak Indonesia merdeka hingga sekarang , khususnya di sektor pertanian dan pangan, ” paparnya.
Selanjutnya, “ Jagung,merupakan bahan pangan penting karena menjadi bahan baku utama untuk pakan ternak,terutama ayam yang merupakan sumber protein termurah untuk rakyat , dan termasuk budi daya ikan. Karena, keduanya membutuhkan biaya sekitar 50% hingga 70 % anggaran diambil dari APBN. Dengan demikian, tersedianya anggaran dan jagungnya sendiri menjadi kebutuhan utama bagi peternakan nasional, “ paparnya.

“Jagung, tempat ketergantungan kebutuhan hidup bagi 6 juta petani di Indonesia. Dalam rangka mengindentifikasi persoalan hulu hilir jagung, termasuk ketersediaan lahan pertanian harus didukung dengan rekomendasi kebijakan yang tepat untuk aktifitas, dan produktifitas petani sekaligus memperkuat produksi jagung, industri peternakaan, dan industri pakan ternak, PKPS menyelenggarakan rembuk jagung nasional 2017 dalam rangka mensinergikan kekuatan nasional dalam rangka pencapaian swasembada jagung dengan iklim usaha yang kondusif dan mensejahterakan, “ tutur Udhoro melalui PKPS tetap optimis swasembada jagung bisa dicapai dengan rumusan yang dibuat untuk kemudian hasilnya akan disodorkan ke pemerintah, DPR smaupun lembaga/ instansi terkait pendukung kebijakan pemerintah. [untung sugianto]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY