SHARE

JournalReportase.com, Menyikapi perkembangan sosial dan budaya bangsa Indonesia yang belakangan ini sangat memprihatinkan, ditandai dengan menurunnya sikap tenggang rasa dan tolenransi yang jelas ujungnya akan mengarah pada disintegrasi bangsa.

Gejalanya dapat dilihat dan dirasakan, dengan menguatnya nilai-nilai primordialisme, dan radikalisme yang terlihat sejak Pilpres 2014 lalu dan Pilkada DKI Jakarta 2017 kemarin.

Apalagi, 2018 hingga 2019 besok Indonesia memasuki tahun politik dengan diselenggarakan proses demokrasi berupa Pilkada serentak, Pileg dan Pilpres yang berlangsung kedepannya.

Situasi yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang sudah dibangun susah payah oleh para pendiri Republik ini. Dipandang perlu disikapi oleh Organisasi-organisasi Pewayangan Indonesia yang terdiri dari Sena Wangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (Asean Puppetry Association-Indonesia), UNIMA (Union Internationale de la marionnette-Indonesia), dan Pewangi (Persatuan Wayang Orang Insonesia), dalam pernyataan sikap bersama sebagai berikut;

1. Senantiasa menjunjung tinggi, menghormati, melaksanakan dan mempertahankan Dasar Negara Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI.

2. Menghormati dan memelihara realitas sosial-politik-kebudayaan bangsa Indonesia atas eksistensi adanya keragaman suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) yang sudah lama hidup dan tumbuh berkembang di bumi pertiwi Indonesia.

3. Melalui pergelaran wayang berupaya meningkatkan kesadaran sikap dan perilaku toleransi dan solidaritas masyarakat guna mendukung persatuan bangsa. Berupaya untuk menyampaikan pesan-pesan moral untuk meningkatkan kepedulian sosial, gotong royong, kepercayaan antar warga serta kehidupan bermasyarakat tanpa diskriminasi dan penguatan nilai kesetiakawanan sosial. Menyampaikan pesan-pesan moral terbangunnya kesadaran kolektif untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai pemecah masalah (problem solving) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

4. Menegaskan bahwa dalam Pilkada Serentak, Pileg dan Pilpres, organisasi-organisasi pewayangan itu independen dan bersikap netral tidak memihak pada kelompok politik apapun dengan menyerukan para anggota organisasi pewayangan itu menggunakan hak politiknya dengan sebaik-baiknya.

5. Dalam menghadapi dan melaksanakan Pilkada Serentak, Pileg dan Pilpres dalam tahun 2018-2019 agar dilaksanakan dengan jujur, adil, bebas rahasia dan bersih baik terkait personalia perencana maupun penyelenggara pelaksana di lapangan, dengan proses dan prosedur yang bersih tanpa memihak kepada salah satu agama, etnis, kelompok, parpol maupun golongan. Dengan demikian diupayakan agar hasil pemilihan-pemilihan akan dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang bersih, anti korupsi, penyalahgunaan Narkoba, anti KKN dan berakhlak mulia serta menegakan keutamaan hidup berdasarkanPancasila dan UUD 1945.

Acara pernyataan bersama ini merupakan kesepakatan yang diambil melalui rapat gabungan dari sejumlah elemen Organisasi Pewayangan Indonesia, Ditandatangani oleh Drs. Suparmin Sunjoyo (Sena Wangi), Kondang Sutrisno,SE (Pepadi), Drs. hari Suwasono (APA-Indonesia), Dubes Samodra Sriwidjaja (UNIMA-Indonesia( (Dubes Samodra Sriwidjaja), Ir. lulus Sumiarso (PEWANGI), dan DR. Sri Teddy Rusdy SH. M. Kum (Tim Filsafat Wayang).

Eny Sulistyowati S.Pd, MM, Kepala Bidang Humas Sena Wangi, mengatakan, Saat inikita berhadapan dengan bahaya segresi sosial dimana politik identitas mencuat. Sebagai penggiat budaya rasanya tidak cukup diam dan pasrah, tapi diperlukan kesadaran untuk membangun relasi perdamaian sejati yang memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kesetaraan.

“Terima kasih kami ucapkan kepada rekan-rekan Wartawan yang telah hadir dalam jumpa pers ‘Pernyataan Bersama Organisasi Pewayangan Indonesia’, serta telah memberi perhatian lebih terhadap masalah kebudayaan. Dalam gerakan budaya ini, sumbangsih pemikiran dari kita diharapkan dapat menginspirasi panggilan bersama untuk meretas damai di tengah keberagaman, secara rukun, bermoral dan berbudaya,” ungkap Eny Sulistyowati.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY