SHARE

Journalreportase.com, Seperti diketahui, tahun ini menjadi tahun yang kedua bagi LMK PAPPRI bisa mendistribusikan hak terkait bagi artis musik Indonesia.

Tercatat sepanjang 2017 kemarin mereka berhasil mengumpulkan royalti dana sekitar lebih dari Rp 1,2 miliar. Dana tersebut sudah dibagikan kepada 442 artis musik tanah air yang menjadi anggota PAPPRI.

Perjuangan Lembaga Manajemen Kolektif Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (LMK PAPPRI) masih panjang untuk mengkolek dan mendistribusikan royalti hak terkait bagi artis musik Indonesia.

Menurut James F Sundah, anggota LMK Nasional, upaya dalam mengumpulkan dana tersebut adalah bukan perkara mudah.

Pasalnya, hingga kini, pengusaha yang bersangkutan masih belum menyadari untuk membayar royalti hak terkait.

“Penuh perjuangan, meski sudah dimulai 2 tahun ini menerapkan sistem agar para musikus mendapatkan haknya. Ini menjadi salah satu buktinya. Namun, perjalanan dan perjuangan kita masih panjang sekali, karena masih ada yang belum menyadari kewajibannya untuk membayar royalti,” ujar James saat ditemui di Toba Dream, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (31/1) sore.

“Sebenarnya mereka tahu kalau harus bayar (royalti-red). Namun sayangnya entah mengapa mereka masih menunda-nunda, menawar dan belum mau bayar. Mungkin, usher itu mindset-nya kalau bisa bayar ya enggak usah dibayar,” timpal Dwiki Dharmawan, Ketua Umum PAPPRI.

Johny Maukar, Sekjend PAPPRI, melanjutkan kalau hingga saat ini masih banyak user yang belum membayar haknya para musikus.

“Masih banyak hotel-hotel yang belum bayar (royalti-red), hanya beberapa yang bayar. Begitu juga dengan televisi swasta kita masih ada juga yang belum bayar, hanya beberapa saja yang bayar. Radio-radio nasional juga ada yang belum bayar. Kalau tidak ada gerakan moral dari kita sebagai LMKnya, maka bakalan tidak ada yang sadar dengan sendirinya untuk membayar kewajiban tersebut. Saya kira mereka kalau sampai nggak mau bayar berarti mereka (pengusaha_red) bersangkutan memang nggak tahu malu,” tegas Johny.

“Kalau kami harus gugat, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk ngurusin itu. Salah satu yang kami lakukan adalah dengan menerapkan budaya malu, karena memutar lagu orang tapi enggak mau bayar royaltinya itu namanya nggak tahu malu,” sambungnya.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY