SHARE

JournalReportase.com  Salah satu faktor terpenting yang berperan dalam mewujudkan pendidikan berkualitas, bukan hanya didapat dari segi akademis saja tetapi faktor penting lainnya yang turut menentukan adalah kualitas manusia, baik dari segi akhlak, perilaku berpikir maupun keterampilan.

Itu sebabnnya Lembaga pendidikan Nasional Satu atau Nassa School di Bekasi,  turut berbenah diri demi meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia. Salah satunya, akan menerapkan Inclusive Education Program (IEP) secara menyeluruh mulai  tahun ajaran 2018 -2019 mendatang.

Sebab pendidikan berkualitas jelas menjadi jawaban dan jalan keluar untuk mewujudkan seorang anak yang unggul.

Terkait hal ini, Nasional Satu (Nassa) School menggelar seminar bertajuk  ‘Incusive, Quality Education for All’ yang diselenggarakan tanggal 11 dan 28 April 2018, bertempat di Nassa Valley, Jl. Rambutan No.8, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi.

Dalam kesempatan ini, Anhar Anugrah selaku Director Operations Nasional Satu (Nassa) School mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia, khususnya pendidik dan tenaga kependidikan, pembenahan program dan kegiatan yang didesain untuk lebih merefleksikan kehidupan nyata, pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana, program peningkatan kesejahteraan, peningkatan kualitas pelayanan dari aspek komunikasi, administrasi, kebersihan dan keamanan.

Sebab menurutnya, proses belajar yang dilakukan secara bersama-sama, mampu membentuk sebuah kelompok masyarakat yang tidak diskriminatif.

“Lembaga pendidikan harus memberi kesempatan belajar pada anak-anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak-anak pada umumnya. Sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan nyata sehari-hari,” kata Anhar.

Dalam seminar ini, juga turut hadir para pembicara, antara lain; Lidia Wisneli Oktami, M.Psi, (Head of Division Inclusion Nassa School, yang juga seorang psikolog), menyoal ‘Mengenal Anak Dengan Kekhususannya’ dan Lina Susanti, S.Psi, (Head of Happy Bear Child Development Center), dengan materi bahasan berfokus pada anak didik yang memiliki kendala atau kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran (Learning difficuIties).

IEP  diyakini sebagai program yang  tepat, mengingat metode dan strategi pembelajaran dan pendidikan didesain untuk mengakomodir kebutuhan anak anak didik dalam upaya mengoptimalkan bakat dan kemampuan murid yang berbeda-beda.

“Praktik pendidikan sepatutnya dapat mengantarkan peserta didik agar mampu menemukan inti dasar kemanusiaan.  Menampilkan dirinya sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya. Mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai tujuan menjadi manusia yang ideal,” ujar Anhar Anugrah SE MM, Director of Operations Nassa School.

Melalui pola ajar IEP,  maka proses  belajar mengajar berlangsung tanpa dikotomi. Artinya,  lembaga pendidikan memberi kesempatan belajar yang sama, baik terhadap anak-anak berkebutuhan khusus maupun anak-anak pada umumnya.

“Melalui model pendidikan inklusif, akan  memberi kesempatan seluas-luasnya bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar di sekolah pada umumnya, secara bersama-sama tanpa membeda-bedakan,” kata Anhar menambahkan.

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Pendidikan Nasional Satu (Nassa) Valley, dr. Sally Fedrini, mengungkapkan, proses belajar mengajar di lembaga yang dipimpinnya, didasarkan pada kebutuhan individual dan kepribadian peserta didik.

Menurutnya, guru berperan membantu. Sudah sepatutnya pendidikan sebagai alat untuk mensukseskan anak didik dengan segala kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki, bukan lagi sebagai alat untuk memilah-milah antara yang pintar dan yang tidak pintar, serta menjadikan kurikulum sebagai alat memaksimalkan potensi anak didik dengan menggunakan perdekatan dalam prose belajar.“Bukan sebaliknya, anak didik yang dituntut untuk memenuhi keinginan kurikulum ,” pungkas Sally.

Sally menambahkan, dengan menerapkan kurikulum 2013, IEP disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran berpusat pada peserta didik. Bukan peserta didik yang harus menyesuaikan pada kurikulum dengan target-target akademik yang membebani.

Nassa School Valley juga memberikan program inklusi dengan dukungan terapi yang komprehenshif. “Sekolah sebagai miniatur masyarakat memerlukan situasi yang mendukung, setara tanpa diskriminasi, dan berempati,” papar Sally.

Nassa School Valley sendiri berada di daerah Jati Murni Pondok Melati Bekasi. Dekat dengan wilayah Cilangkap Jakarta Timur. Sekolah ini dilengkapi fasilitas outdoor dengan pekarangan yang luas. Pekarangan sekolah ini menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Menjadi pusat kegiatan outbond, berkemah, berkebun, dan menjadi pusat belajar biologi.

Itu sebabnya Nassa School Valley sangat peduli terhadap masalah lingkungan. Penanaman budaya lestari diajarkan kepada anak-anak sejak dini (TK-SD), melalui berbagai kreasi penataan lingkungan.

“Mudah-mudahan ini efektif dalam rangka berperan serta mengatasi kerusakan lingkungan. Sekaligus bertujuan membentuk rasa tanggung jawab dan mampu memanfaatkan lingkungan di mana mereka tinggal nanti setelah dewasa,” tambah Sally.

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah berusia lebih dari  30 tahun lebih, Nassa School memiliki pengalaman baik di bidang manajemen kelola lembaga sekolah. Sekolah dengan predikat K3 (kebersihan, kenyamanan dan keindahan) se-Kota Bekasi.

Selain itu Nassa Scholl juga pernah meraih predikat Gold Diploma 1st Xinghai Prize International Choirs Competition Guangzho China untuk kategori Childrens Choirs dan Mixed Youth Choirs. Meraih penghargaan Gold Medal Childrens Choirs Category, Vietnam International Choirs Festival and Competition.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY