SHARE

JournalReportase.com, Berangkat dari kegelisahannya atas rendahnya kesadaran masyarakat terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan maraknya intoleransi yang terjadi belakangan ini, Lola Amaria coba menggagas film berjudul Lima.

Lewat film berdurasi 90 menit ini, Lola Amaria ingin mengajak penonton mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Film ini kan sebenarnya nilai-nilai Pancasila yang divisualkan,” kata Lola Amaria seusai pemutaran film Lima di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis, (24/5).

Jika lima sila Pancasila dilaksanakan dengan baik, Lola optimistis berbagai kejadian negatif yang terjadi beberapa waktu belakangan tidak akan terulang.

“Kembali kepada lima hal yang paling mendasar, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Kalau lima itu diterapkan, enggak mungkin ada keributan, enggak mungkin ada hal yang negatif-negatif,” tutur Lola Amaria.

Hebatnya lagi film tersebut digarap oleh lima sutradara, masing-masing menggarap tema yang mewakili satu sila dalam Pancasila. Selain Lola Amaria, sutradara lain yang terlibat dalam film ini adalah Salahudin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriyansyah, dan Adriyanto Dewo.

“Semua sutradara itu saya sendiri yang pilih. Semua dari mereka itu sudah pernah kerjasama dengan saya. Jadi saya enggak beli kucing dalam karung,” tegas Lola.

“Saya sejak awal tahu Udin itu kuat untuk menyutradarai sila pertama karena dia ada pengalaman menjadi sutradara dokumenter film Pesantren.Tika juga, yang lain juga. Semua pas dengan tema mereka masing-masing. Pada akhirnya kombinasi lima ide digabung jadi satu berhasil juga,” lanjut Lola.

Digarap oleh lima sutradara yang berbeda bukan berarti cerita dalam Lima tidak menyatu. Garapan lima sutradara ini kemudian disatukan oleh editor yang Lola sebut sebagai sutradara keenam. Konsep ini pun akhirnya tidak membingungkan ataupun menyulitkan pemain.

Hal tersebut diakui oleh Prisia Nasution yang dipercaya sebagai salah satu dari lima pemeran utama “Lima”. “Enggak sih (bingung) karena film ini skenarionya memang utuh gitu. Tapi ada part-part yang memisahkan mana sila pertama dan mana sila yang lain,” ujar Prisia.

Prisia pun menganggap hal tersebut sebagai keunikan film Lima. “Uniknya satu film, lima sutradara. Itu awalnya bingung tapi ternbyata satu film dengan lima kepala juga bisa. Ini jadinya pemain dan set sama, tapi sutradara ganti-ganti. Biasanya kan kebalikannya,” sambung Prisia.

Sayangnya film yang akan tayang serentak pada 31 Mei ini sehari sebelum peringatan Hari Kelahiran Pancasila, mendapat rating dewasa alias hanya untuk penonton 17 tahun ke atas oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Hal ini pun membuat Lola sedih. Artis cantik ini berharap bahwa film Lima juga bisa ditonton oleh anak-anak mengingat ceritanya yang mengangkat tentang nilai Pancasila.

“Iya (sedih). Saya awalnya berkeinginan untuk membawa film ini ke anak-anak SD atau SMP dan SMA tapi terganjal dari LSF. Waktu kita kasih tonton ke anak-anak muda sih reaksi teman-teman semua luar biasa. Kebanyakan orangtua malah pengen anaknya nonton dan mengerti secara mendalam nilai-nilai dari Pancasila,” ungkap Lola.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY