SHARE

JournalReportase.com, Perayaan Hari Wayang Dunia yang diselenggarakan pada Rabu (21/3) kemarin, sejatinya merupakan tahapan menjelang Indonesia menjadi Tuan Rumah Kongres UNIMA Internasional dan Festival Wayang Dunia yang akan dilaksanakan di Gianyar Bali,  April 2020. Tercatat ada 90 negara anggota UNIMA yang akan hadir dalam kesempatan itu.

Perubahan zaman dewasa ini, mendatangkan tawaran nilai, asimilasi, modernisasi, silang budaya, kompilasi, hingga inovasi. Oleh karenanya kesenian Wayang dianggap masih mempunyai nilai-nilai kearifan budaya lokal  yang harus terus dijaga meski jaman sudah berubah.

“Local wisdom tersebut beberapa diantaranya terkandung di dalam cerita wayang, yang menjadi sumber narasi; sanggit, cerita suluk, sabetan,” kata  Presiden UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, Drs. TA. Samodra Sriwidjaja, kepada Wartawan, di acara Peringatan ‘Hari Wayang Dunia’, yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (21/3) kemarin.

Samodra menegaskan, bahwa kekekalan sesuatu yang baik adalah hal yang kerap sulit dijaga. Tanpa proteksi, menurutnya, budaya lokal berangsur kehilangan esensinya ditengah peradaban masyarakat global.

UNIMA Indonesia, lanjut Samodra, terus melakukan berbagai upaya secara fundamental. Pihaknya terus menumbuh kembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam wayang, antara lain seperti dalam ungkapan ‘Sura dira Jaya Diningrat, lebur dening pangastuti’.

“Secara umum makna ungkapan ini adalah, segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut, dan sabar. Suri teladan para pemimpin terus dikembangkan, misalnya tidak korupsi, jujur dan adil. Ungkapan ini rasanya relevan dengan situasi sekarang,” jelasnya.

Hadir di acara ini, Nyoman Shuida, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, mewakili Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, para tokoh, budayawan, para penggiat dan pemerhati wayang, seperti Dadi Pudumjee (Presiden UNIMA Internasional), Karren Smith (dari Australia/Sekretaris Jenderal UNIMA Internasional), dan Runjena Panday (dari India), Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), Kondang Sutrisno (Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia), Nurrachman Oerip, SH, (Penasehat UNIMA Indonesia), Dr. Al Zastrow Ngatawi (Councillor UNIMA Indonesia), Eny Sulistyowati S.Pd , MM (Kepala Bidang Humas SENA WANGI), dan para budayawan lainnya.

Sementara itu Kepala Bidang Humas SENA WANGI, Sulistyowati S.Pd , MM, yang hadir di acara tersebut, menyampaikan, bahwa ada kesamaan visi antara UNIMA Indonesia dan SENA WANGI. Sejarah perjalanan kedua organisasi pewayangan ini, menurutnya, saling terkait.

“Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi kewajiban mengenal masa lalu (budaya) menjadi kebutuhan penting, sebagai sumber nilai, norma, adat, tradisi. Inilah yang menjadi visi UNIMA Indonesia dan SENA WANGI, meletakkan budaya Indonesia sebagai bagian sentral dari pembangunan budaya dunia di masa depan,” tuturnya.

Dadi Pudumjee Presiden UNIMA  (Union Internationale de la Marionnette), menegaskan misi mulia UNIMA dalam berperan serta mendorong tegaknya perdamaian dan saling pengertian dari hak-hak dasar kemanusiaan. Menurutnya, seni wayang bisa sebagai media untuk tujuan tersebut.

UNIMA akan aktif mendorong terciptanya saling pengertian dan penghormatan antar bangsa lewat wayang, dan wayang harus berperan aktif dalam menjaga peradaban dunia”, tegas Pudumjee.

Menurutnya  hal ini sebagaimana tercantum dalam Deklarasi PBB tentang hak-hak asasi manusia yang diproklamirkan, pada tanggal 10 Desember 1948. “Semua itu ada dalam filosofi wayang yang berisi peradaban, kemanusiaan, keadilan,  toleransi dan kasih sayang”, jelasnya lagi.

Sebagaimana diketahui, Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO),  menegaskan Wayang Indonesia sebagai a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Menindak lanjuti pengakuan yang membanggakan itu,  Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) dan Persatuan Pedalangan Indonesia ( PEPADI), pada  15 Desember 2009, menandatangani nota kesepakatan pendirian UNIMA Indonesia.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY