SHARE

JORL-JAKARTA,-   Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) baru-baru ini meluncurkan portal geospasial teranyar yang berfungsi sebagai basis data mengenai hutan dan sumber daya alam lain yang dimiliki Indonesia.

1
Portal geospasial ini menggunakan platform analisis berbasis lokasi (ArcGIS), yang mengintegrasikan data kehutanan dan lingkungan hidup lembaga-lembaga pemerintahan. Lebih jauh, data yang ada divisualisasikan dalam peta yang dinamis (dynamic map).

Pengguna akan mendapatkan data mengenai wilayah pemanfaatan hutan, batas-batas daerah aliran sungai (DAS), wilayah dan luas hutan serta lahan untuk keperluan rehabilitasi, lokasi unit pengelolaan hutan, dan data-data lainnya.

Platform canggih ini dapat membantu para pembuat kebijakan di lembaga-lembaga pemerintahan maupun masyarakat karena informasi mengenai hutan-hutan di Indonesia ditampilkan dengan jelas melalui penyajian data secara dinamis. Dengan demikian, mereka dapat lebih memahami kondisi aktual dari sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini.

Ruandha Agung Sugardiman, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Kementerian LHK menekankan bahwa platform kolaborasi dan pengambilan keputusan ini memungkinkan Kementerian LHK untuk memodernisasi cara pengelolahan data. Mereka dapat menghemat banyak waktu karena tak perlu lagi melakukan proses pengolahan data berbasis lokasi dan mendiseminasikannya secara manual.

“Sebelum menggunakan portal geospasial ini, proses berbagi data (data sharing) dilakukan dengan menyimpan data di USB Flash Disk dan memberikannya kepada pengguna yang membutuhkannya. Walaupun dalam beberapa kesempatan cara ini cukup efektif, namun kurang menjaga keamanan dan integritas data,” terang Ruandha.

“Setelah mengimplementasikan portal geospasial ini, kita merasakan akses data ke seluruh organisasi menjadi mudah. Sekarang kita dapat membuat peta dinamis yang sangat dibutuhkan informasinya untuk proses pengambilan keputusan secara cepat”.

Selain itu, dengan portal geospasial ini, kolaborasi lintas departemen dapat dilakukan dengan lebih baik karena semua pihak memiliki informasi lengkap dan memahami kondisi terkini secara simultan. Mereka dapat dengan lebih baik merumuskan solusi untuk tantangan yang dihadapi lingkungan dan membuat kebijakan publik yang lebih efektif.

A. Istamar, CEO Esri Indonesia mengatakan karena portal geospasial ini dapat diakses oleh masyarakat umum maka komunitas, sekolah dan organisasi kemasyarakatan akan menjadi lebih paham dan tahu tentang kondisi hutan di Indonesia.

“Konsep open data sangat erat hubungannya dengan wacana pemberdayaan masyarakat selain memfasilitasi tumbuhnya semangat berinovasi,” A. Istamar menjelaskan. “Dengan tersedianya data daring mengenai hutan-hutan kita, masyarakat memiliki gambaran luas mengenai kondisi hutan kita. Dengan begitu, mereka dapat bekerjasama dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hutan-hutan Indonesia bagi kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang.” [ant]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY