SHARE
Adds

WWW.JOURNALREPORTASE.COM, JAKARTA -Sebuah Pembuktian Ikatan Pernikahan
Cinta adalah ikatan perasaan seorang laki-laki dengan seorang wanita, yang kadang sulit dilukiskan. Layaknya cinta, pernikahan tentu diiringi doa dan harapan bahwa mahligai rumah tangga kelak seperti surga. Berbunga dengan manisnya ikatan perasaan saling memiliki, anak-anak yang lucu sebagai penyemarak hati dan kelengkapan materi yang berlimpah. Namun, bagaimana bila sebuah janji ikatan pernikahan tidak seperti yang diharapkan? Bagaimana bila sebuah ikatan janji pernikahan diuji dengan musibah penyakit? Kuatkah suami istri tetap saling berpegang tangan mengatasi ketakutan karena penyakit dan saling menguatkan bahwa sejatinya sakit adalah sebuah cara untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Namun, bagaimana jika seorang istri terkapar koma? Bagaimana perasaan seorang suami dan bagaimana cara laki-laki mengatasi masalah ini?
Gondo berada di lorong hening. Ia tak melihat ujung, tak juga melihat kebuntuan. Yang ia lihat hanyalah dinding yang menghimpit. Mengepungnya dan memberi pesan yang sangat jelas: geraknya terbatas. Ia memang masih bisa berjalan. Menapaki harapan. Melangkah lurus menyusuri lorong yang tak pernah ia tahu ujungnya. Akan tetapi ia tak bisa mengambil arah yang berbeda. Tak bisa berkelit. Tak bisa memutar. Berjalan saja ke depan, bersekutu dengan harapan. Satu-satunya yang ia yakini masih ada, kepercayaan bahwa Tuhan sedang mendengarnya.
Itu yang ia rasakan ketika menatap perempuan yang paling dicintainya, Lili. Istrinya bukan lagi berupa perempuan dengan senyum penuh dan mata yang berkerjab indah. Lili tertidur. Atau lebih tepatnya tak sadarkan diri. Selang-selang medis menancap di tubuhnya. Peralatan kedokteran menghasilkan satu-satunya bunyi di ruang ICU. Selebihnya hanya bunyi napas perempuan itu. Amoniak telah meracuni tubuhnya dan mencabiknya dengan kekuatan yang tak terlihat. Seluruh organ tubuh dibuat tak berdaya. Kekuatan otak dilumat. Begitu dahsyatnya siksaan itu hingga perempuan indah yang begitu hidup itu kemudian lunglai. Tak menyentuh lagi dunia. Tidak tatapannya. Tidak kesadarannya. Ia telah sangat berjarak dengan dunia. Dokter mengatakan, istrinya koma.
Gondo kini mematung. Ia dihadapkan pada kenyataan, waktunya bukan lagi sesuatu yang powerfull. Waktu yang ia miliki untuk merentangkan harapan begitu lemah. Bahkan ia tak bisa banyak berbuat di tengah waktu yang sempit itu. Ia hanya bisa berharap. Dokter mengatakan sesuatu yang sangat pahit. Kemungkinan hidup istrinya tinggal beberapa persen saja. Amoniak dengan keji terus meluluhlantakkan semua oragn karena fungsi hati yang telah lumpuh. Di dalam waktu yang sempit itu satu-satunya senjata yang bisa ia kerahkan hanyalah…harapan.
Itulah sepenggal kisah yang tertuang melalui novel Cahaya di Penjuru Hati. Melalui novel yang merupakan kisah nyata dari perjalanan hidup dan kisah cinta J.H Gondowijoyo ini, Alberthiene Endah ingin menyampaikan pesan kepada pembaca akan pentingnya cinta bagi manusia.Melalui ini ia ingin agar keluarga yang mengalami keretakan sanggup dipulihkan dan mengajarkan bagaimana setiap lajang mampu menghargai dan memaknai arti cinta, dan bahkan sampai menemukan cinta sejatinya. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, orang sering tidak sadar jika bahwa mereka telah mengabaikan begitu banyak cinta, kasih sayang, dan perhatian kepada orang terdekatnya.
Alberthiene Endah sebagai penulis buku biografi nomor satu di Indonesia saat ini, membuktikan kepiawaiannya dalam merangkai kata. Kisah perjalanan Bapak Gondowijoyo, pemilik Penerbit Andi ketika mendampingi istrinya yang koma, sungguh patut menjadi renungan. Bagaimana seharusnya sebuah bentuk cinta seorang suami pada istri yang sedang membutuhkan kehadiran dan cinta seorng suami, begitu jelas tergambar pada novel ini. Sebuah pelajaran hidup yang layak menjadi sebuah renungan kita bersama.
Selain itu untuk memperkuat pesan dalam novel tersebut tertanam pada kalayak, akan digarap dalam bentuk film layar lebar yang rencananya akan digarap oleh sutradara muda Hestu Saputra (Sutradara Merry Riana, Air Mata Surga, Perfect Dream dan lain-lain).
Buku ini sudah bisa didapatkan di toko-toko buku secara nasional. Di cetakan awal ini, Penerbit Andi menyiapkan 30.000 eksemplar untuk memenuhi permintaan para pembaca di seluruh penjuru tanah air. Penerbit Andi telah menggelar acara launching dan bedah buku yang akan dilanjutkan dengan road show di seluruh Indonesia.
Launching awal :
Di Atrium Hartono Mall Yogyakarta 25 April 2017
Dengan menghadirkan :
Baim Wong (Artis)
Alberthiene Endah (Penulis Novel Cahaya di Penjuru Hati)
Alvin Adam (host acara di Metro TV)
Hestu Saputra (Sutradara film Merry Riana)
J.H. Gondowijoyo (Nara sumber utama)

Andi Publisher Hall tgl 26 April 2017
Dengan dihadiri
Alberthiene Endah (Penulis Novel Cahaya di Penjuru Hati)
Alvin Adam (host acara di Metro TV)
Hestu Saputra (Sutradara film Merry Riana)
J.H. Gondowijoyo (Nara sumber utama)
Daniel Alexander (Pembicara forum Kemanusiaan Internasional, pernah diundang oleh Kick Andy)

Gramedia Sudirman Yogyakarta tgl 26 April 2017
Dihadiri oleh :
Alvin Adam (host acara di Metro TV)
Hestu Saputra (Sutradara film Merry Riana)
J.H. Gondowijoyo (Nara sumber utama)
Bagaimana sebenarnya isi hati seorang laki-laki ketika menghadapi kenyataan istrinya terbaring koma? Bagaimana mungkin isi buku ini mampu menguras emosi terdalam setiap pembacanya? Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan buku ini untuk para suami istri?
*Rencana Road Show lanjutan adalah di bulan Mei dan Juni yang akan dilakukan bedah buku serentak di 23 kota yang tersebar di seluruh Indonesia dengan pusat acara di Jakarta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY