SHARE

Jakarta-JournalReportase,- Menanggapi persoalan komoditi jagung, menurut para pakar pangan,  tanaman jagung disebut tanaman hulu hilir, pertumbuhan untuk menghasilkan  panen jagung yang unggul atau berkualitas gampang-gampang  susah.

Berbagai faktor kendala yang ditemui di lapangan antara lain seperti, sewa lahan yang mahal bisa sampai 20 juta/tahun, selain  sulitnya memperoleh lahan yang mumpuni,  juga peralatan  untuk  sewa dan   pupuk  mahal sulit diperoleh. Termasuk bibit, dan   pendistribusian sulit akses serta mekanisme tata niaga atau kelola  belum optimal, sehingga banyak daerah –daerah yang gagal panen (jagung), lantaran tanam dipaksakan tanpa melihat  situasi dan kondisi memungkinkan atau tidak faktor-faktor yang menjadi kendala.

Pada seminar  bertajuk  “Rembuk Jagung Nasional 2017” yang diselenggarakan Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS) dibawah komando Siswono Yuhdohusodo (matan menteri pertanian di masa order baru/anggota DPR/F-Golkar),  Udhoro Anggoro Kasih (mantan Dirjen Tanaman Pangan Kementan) , dan Sudirman salah seorang pakar pangan beserta kawan kawan ini mencoba untuk memberikan rumusan kepada pemerintah,.

Rumusan itu nanti bisa dijadikan acuan untuk dibuat RUU Pangan yang didalam  mengatur tata niaga atau tata kelola pangan yang baik, dan benar itu seperti apa ?, dan harus bagaimana? serta kebijakan pemerinah  maupun kepentingan  petani, kalau perlu didukung dengan Peraturan Pemerintah (PP), sehingga petani merupakan sumber daya manusia yang handal yang akan menjadi garda didepan penopang perekonomian bangsa, dan Negara untuk tidak demam impor lagi. Kalo perlu jagung menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kira-kira itu kesepakatan para pakar dalam seminar yang digagas PKPS..

Mengambil contoh, seperti di Kabupaten Dompu NTB, masalah budidaya jagung tidak ada masalah, lancar-lancar saja karena para petani disana rata-rata memiliki lahan sendiri, dan para kepala  desa sangat mendukung petaninya. Dukungan yang diberikan seperti :  penyedian bibit selalu siap sedia, pupuk  mudah diperoleh dan murah, alat-alat, dan pendistribusiannya juga mudah akses menyangkut masalah ijin dimudahkan oleh Bupati.

 

Lebih-lebih Kepala Daerah beserta jajarannya dinas-dinas disana.  memberikan kemudahan apa yang dibutuhkan petani termasuk perijinannya, sehingga para petani  tanpa disuruh bertanam jagung, mereka sudah siap dan  tahu sendiri apa yang harus dikerjkan dengan tanaman jagung, kalau ingin kebutuhan hidup keluarganya  tercukupi. “Itulah, kelebihan petani kami disana, karena dari mereka punya lahan sendiri, dan stururk tanahnya cocok utnuk tanaman jagung, dan lagi pula kebayakan dari mereka masih bersaudara dengan kami,” tutur Bambang M Yasin Bupati Dompu NTB..

Orang nomor satu di  Dompu, NTB  hadir dalam seminar  mengikuti sesson  dari awal hingga terakhir kepada  Journal Reportase,  mengatakan  sebagai Bupati hanya sebagai fasilitator atau pengawas saja, karena itu jusru kepala-kepala desa disanalah yang  menjadi raja, karena langsung bersentuhan dengan para petani.

Keberhasilan budidaya jagung di Kab. Dompu dapat dicontoh oleh daerah-daerah lain di Indonesia, karena dapat memberikan  motivasi bagi para  petani, termasuk  pemerintah daerah, kiranya Kabupaten yang terletak  di wilayah Indonesia bagian tengah, kabupaten yang paling menonjol, dan sukses dalam budidaya jagung.

Jagung, menurut  Bambang,  komoditi jagung kini menjadi andalan utama  perekonomian masyarakat desa (petani) disana , sekaligus bisa  dijadikan pilot proyect tanaman jagung  yang mumpuni. Sehingga, petani akan lebih bersemangat untuk beramai-ramai menanam jagung demi meningkatkan penghasilan mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan meningkatnya penghasilan petani, tentu akan berpengaruh pada  Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa  terdongkrak.

Seperti potret  bahasa almarhum mantan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid atau lebih akrab  disapa Gusdur  yang mengatakan,  kalo memang bisa dibikin gampang, ,kenapa harus dibikin susah. [untung sugianto]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY